Curhat, Family, Health, Informasi, kids, Parenting

Tidak Semua Ibu Hamil Perlu Ucapan ‘Selamat’

Harus cerita dari mana ya, aku bingung. Aku yakin pasti akan banyak yang bilang ceritaku lebay. Aku berlebihan dan tidak bersyukur. Aku siap kok dibully netizen. Karena memang menyuarakan uneg2 itu kan nggak bisa dikurang-kurangi dengan alasan ,” mau jaga image.”

Yaa maap kalau ada yang kurang setuju dengan ceritaku ini. Kita punya value, ketahanan, limit yang beda-beda kan. Gpp kalo nggak sepaham.

Akhir-akhir ini kan aku lagi setres banget, sampe mungkin hampir tiap hari aku nangis. Ya nggak nangis yang bombay banget gimana, tapi bentar2 netes aja gitu lho.

Berusaha strong dan nggak cengeng tapi ternyata memang aku lemah.

Awal mula setresku adalah bulan lalu waktu Ken sakit pneumonia masuk Rs dan diwaktu yang bersamaaan aku juga merasa badanku nggak fit, mual, lemes banget. Aku berpikir mungkin aku masuk angin, karena memang sampe kurang tidur jagain Ken. Malam2 suka kebangun karena Ken batuk sampe muntah.

Yah tapi ternyata sudah mencoba istirahat dan minum vitamin tapi tetap aja mual. Akhirnya suamiku curiga, aku pun sebenernya curiga kenapa sudah telat mens. Tapi dari kita sama sekali tidak merasa pernah kebablasan berhubungan, apalagi suami. Aku masih tetap bersikeras bahwa mual ini bukan karena aku hamil. Kalo telat mens, aku sering telat, karena siklus mensku tidak lancar. Suami menawarkan diri, “apa mau coba aja beli testpack dulu?” , Aku jawab, “ Gak usah,buat apa? ini nggak mungkin. “

Aku memang tidak siap menerima kenyataan. Aku memang seperti tidak bertanggung jawab. Udah ena-ena suruh tes takut. Ya gimana engga takut? Aku sama sekali nggak siap. Dan kami “main” aman.

Kami berdua juga sudah sepakat bahwa hanya akan punya 2 anak. Tapi bodohnya kita nggak KB. Cuma “main” aman. Aman menurut kita! tapi ternyata tidak aman.

Habis itu aku baru kepikiran coba buka google dengan key word , “Sperma tidak keluar di dalam, apakah bisa hamil?”

Dan yang keluar mencengangkan;

“Hubungan intim yang dilakukan secara sanggama terputus/coitus interruptus (atau disebut juga dengan membuang sperma di luar) tidak dapat menjamin pasti tidak terjadi kehamilan. Hal ini disebabkan oleh:

• Sebelum terjadinya ejakulasi seorang pria dapat mengeluarkan cairan precum yang dapat mengandung sedikit sperma. Bila cairan precum ini dikeluarkan pada saat sanggama, maka dapat saja menyebabkan terjadinya pembuahan.”Hanya 4 dari 100 wanita akan hamil dari partner pria yang selalu menggunakan metode senggama terputus ini”

Aku langsung deg-degan banget perhari itu, aku uring2an terus, akhirnya ya udah coba beli testpack lah. Ya kecurigaan kita terjawab, hasilnya hamil lagi. Aku kesel, aku setres, aku nangis, aku lemes. Tidak seperti kehamilan yang sebelumnya. Kali ini aku merasa tidak happy. Maaf.

Bukannya bersyukur malah sedih, marah, kecewa. Aku sama sekali nggak marah sama suami. Wong kita ena-ena ya sama2, aku bukan diperkosa.

Shocked banget nget. Kenapa bisa aku segitunya menolak? Ya karena tahun ini banyak sekali mimpi dan harapanku yang pengen buru2 aku kejar. Egois kan! Tahun ini aku bisa bebas karena si Ken udah sekolah, aku bisa punya banyak waktu lebih untuk belajar, melakukan kegiatan yang aku suka, punya waktu juga untuk bisa part time ngumpulin uang. Mama Egois!

Tapi ternyata aku harus kubur semua mimpi2ku dalam-dalam. Padahal aku juga baru keterima kerja. duhhh!! kacau!

Aku mulai membanyangkan bagaimana aku bisa ngurus 3 anak. Sedangkan aku males capek lagi, aku males netekin lagi, aku males dengan semua hal perbayian yang bikin aku terkadang bisa kurang waras.

Dan nyebelinnya lagi, setiap aku cerita ketemen, ke saudara, ke orang bahwa aku hamil lagi, aku selalu di ketawain dan diselametin. “Wah selamat ya, berkat, rejeki, bla bla bla.”

Dalam hatiku aku pengen misuh2, “monyong ni orang, ga tau apa kalo aku sedih, kalo aku harus mengubur semua mimpiku demi sesuatu yang aku nggak siap?”

Cuma ada 3 orang yang waktu aku cerita kalau aku hamil lagi dan mereka diem aja,

1. Mamaku (karena mama tau aku sebenernya nggak mau lagi)

2. Mama mertua (karena dia jg tau, punya anak banyak dan ngurus sendiri di sini itu berat)

3. Temen baikku (Dia nanya “r u happy?” dan aku jawab “NO, aku dosa ya jawab no?.” “ Enggak kok itu wajar, kamu lg bingung.” )

Yang lainnya semua menggurui, menertawakan, membuat bercandaan dan bikin aku sebel.

Aku tau semua yang tau ada temennya hamil pasti seneng, bahagia, itu hal umum yang memang perlu dibawa seneng dan disyukuri. Jadi kalau ada orang yang sedih kalau lagi hamil, itu adalah sesuatu hal yang tidak boleh / dosa. Aku pun dulu sebelum pernah ada di posisi ini ( posisi hamil kebobolan) selalu berbahagia tiap ada temen yang hamil. Ucapan pertamanya pasti ya “Congrats!”

Tapi saudara-saudara perlu kalian ketahui bahwa tidak semua kehamilan itu sesungguhnya diinginkan, ada yang memang terjadi karena kebobolan. Jadi cuma saran aja, kalau ada temen hamil, dan kalian tidak terlalu tau tentang dia, (maksudnya, dia sebenernya sedang siap punya anak atau nggak sih) alangkah baiknya tidak harus mengucapkan kata selamat. Lebih baik tanyakan kesehatannya, misal, “ Mual2 nggak sekarang?” Kalau dia jawab “iya mual2.”

Kamu bisa kasih dia perhatian lain, “ Ada yang bisa aku bantu gak?,dll.”

Atau selain ngomong gitu, kamu bisa bilang, “Ooo.. kamu jaga kesehatan ya.”

Udah gitu aja jangan ketawa jangan cengengesan, jangan banyak omong! Karena kamu nggak tau kan perasaan bumil yang kebobolan itu biasanya awal2 shocked dan bingung, jadi kalo semakin dikasih wejangan2 untuk bersyukur, untuk lebih melihat sekeliling bahwa ada orang yang susah hamil, dsb. Malah tambah eneg nyebelin. Karena sejujurnya kita bukan tidak mau beryukur, bukan tidak bisa lihat bahwa aku beruntung. Bumil kebobolan hanya butuh waktu untuk bisa mengatur ulang rencana2nya yang gagal. Lagi bingung aja gitu lho, butuh waktu untuk akhirnya bisa menikmati dan mensyukuri.

Aku sekarang udah yang mulai agak nyantai sih, udah bisa nerimo, udah bisa mulai bersyukur, udah mulai bisa happy, membanyangkan sesuatu yang seneng2 dan lucu2. Nggak kaya kemaren2 yang setres banget. Fokusnya cuma kediri sendiri terus, jadi susah bersyukur. Aku baik-baik saja. Aku hanya sempat bingung dan kaget, mana mungkin “main” aman kok bisa dapet lagi. Dan ternyata 4 dari 100 wanita bisa hamil dengan cara “main” aman kaya aku dan suamiku. Dan aku masuk salah 1 diantara 4 itu? Aku gila sissss..

Teman-teman pasang KB deh kalau kamu merasa nggak sanggup punya anak dulu/lagi.

Cuma kalian sendiri yang tau sampai mana batas limit diri kalian. Maksudnya kalau 1 anak aja udah bikin capek, nggak sanggup, ya udah gpp. KB lah. Jangan hiraukan kata orang, yang nyuruh2 beranak terus, hanya kita yang tau batasan kewarasan diri kita. Tapi kalo udah terlanjur kaya aku, malah ada yang lebih dari aku, dan kamu sekarang setres. Cepet2 cari jalan keluar, manfaatkan waktu luang untuk “me time” Kalau “me time” mu murah, makan bakso aja udah seneng, makan lah bakso ,nak! Supaya bahagia dirimu. Kalau “me time” buat kamu adalah piknik ke Luar Negri. Ya monggo, kalau ada duitnya.

Kalau aku “me time” nya, makan pempek dan indomie pedes sendirian, ngopi sendirian, nulis2 gak jelas. hehe. murah. Walaupun nggak selalu mempan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *