Health

Persiapan Menghadapi Bencana

Typhoon Trami yang menghantam Jepang sejak minggu 30 september 2018 lalu terbilang cukup kencang dari angin typhoon yang sebelumnya. Mulai Okinawa, Kyushu, Shizuoka ken, Tokyo, dan masih banyak kota lain yang merasakan imbasnya. Salah satunya adalah listrik mati di banyak daerah. Dan Shizuoka Pref adalah yang terbanyak mengalami mati listrik. Kenapa bisa mati listrik? Penyebab terbesarnya adalah, kabel yang konslet. Konslet karena terkena air garam terlalu banyak, jadi kabelnya rusak. Kok bisa? Iya, typhoon kali ini datangnya dari arah laut, jadi hujan air garam dan angin kencang itulah yang membuat kabel-kabel rusak. Dan butuh waktu lama untuk memperbaiki satu persatu kabel.

Selama hampir 10 tahun tinggal di Jepang. Baru kali ini saya mengalami listrik mati yang terlama. Sebelumnya tahun 2011 juga pernah mati listrik karena gempa, tapi tidak sampai 6 jam sudah menyala. Kali ini 24 jam tidak ada listrik ternyata membuat kami kikuk juga. Baterai Hp sekarat, power bank juga tinggal setengah. Sama sekali tidak ada persiapan apa-apa. Ya karena kita pikir ya seperti yang sebelumnya saja. Angin typhoon memang langganan datang ke Jepang, tapi kota kami Hamamasu juga tidak pernah kenapa-kenapa. Semua aman. Eh di luar dugaan, yang ini anginnya kencang sekali. Rumah goyang, jendela seperti digedor-gedor orang sekampung. Gubrak! Gubrak! Dan suara angin menderu-deru. Di luar, suara ambulance seliweran tiap menit. Dan terdengar juga berkali-kali ada bunyi ledakan atau seperti barang kepental gitu. Sebelum Typhoon datang semua barang yang ada di luar sudah diatur sedemikian rupa agar tidak ada yang terbang. Sepeda juga sengaja dipepet sama motor dan mobil. Tapi saking kuat anginnya, sepeda listrik yang beratnya seperti itu bisa kegeser mundur ke belakang. Sepedanya anak2 juga gelimpangan tidak karuan. Saya lupa foto sepeda yang jatuh dan bergeser itu, karena reflek saja, begitu lihat pada berantakan langsung beresin duluan.

Sampai hari ini (H+5) Beberapa rumah masih merasakan efeknya, yaitu mati listrik. Rumah teman saya masih mati semua. Kulkas mati, bahan makanan mencair semua. Air panas untuk mandi juga terhubung dengan listrik, jadi pemanas airnya jelas tidak berfungsi. Bulan segini mandi air dingin udah mati berdiri lah kita. Dingin sekali. Banyak sekolah diliburkan karena air tidak ada. Sekolah kiyomi tetap berjalan seperti biasa, tapi bus sekolah tidak bisa menjemput, karena macet di mana-mana. Jadi kalau tetap mau berangkat sekolah harus diantar jemput sendiri dan bawa bekal sendiri, karena makanan dari sekolah tidak ada. Dikarenakan cateringnya tutup. Lalu lintas kacau. Lampu merah mati. Cuma mati lampu saja sih, tapi kok ya terasa sekali repot dan susahnya. Jadi berpikir bagaimana dengan saudara2 kita yang sampai harus mengungsi? Atau tertimpa bencana yang lebih besar, bukan cuma kehilangan listrik tapi rumahnya mungkin hilang. Barang-barang tidak bisa diselamatkan. Apalagi kalau sampai keluarganya ada yang terluka. Duh membayangkannya saja ngeri sih.

Makanya ya, sesusah2nya posisi kita sekarang, masih banyak orang yang lebih susah. Pelajaran yang bisa didapat adalah. Tetoplah bersyukur. Yang bisa mengubah kondisi tidak nyaman menjadi seru dan nyaman itu, ya kita sendiri. Diri kita ini. Cara kita berpikir, hati kita ini, yang bisa membuat suasana rumah dan sekitar jadi adem walaupun banyak alasan untuk mengeluh.

Saya ingin berbagi saran atau tips untuk persiapan menghadapi bencana. Bencana kan bisa terjadi tanpa kenal waktu, tempat dan siapa ya. Jadi alangkah pentingnya, kita mempersiapkan segala sesuatunya sebelum ada apa-apa. Berdasarkan pengalaman saya kemarin, yang tidak ada persiapan apa-apa, terlalu menganggap typhoon itu hal yang sepele. Akhirnya jadi kedandapan gitu pas tau mati lampu sampai seharian. Jangan sampai terulanglagi.

Maka dari itu, apa sana yang perlu kita siapkan?

1. Senter.

Usahakan senter jangan punya 1 aja. Kalau bisa ada 3-4. Dengan berbagai ukuran. Yang besar,sedang, dan kecil. Simpanlah senter di tempat yang sama. Jadi waktu ada apa-apa, tidak perlu cari-cari lagi. Langsung sudah tau tempatnya.

2. PowerBank.

Ini penting sih buat saya. Karena kalau tidak ada hp, tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Sebisa mungkin kita punya 1 power bank yang kita simpan dan dipakai hanya kalau keadaan darurat, dan pastikan selalu baterinya full.

3.Tas barang berharga.

Siapkan 1 tas hanya berisi barang berharga. Seperti surat atau perhiasan. Kalau sewaktu-waktu ada apa-apa, dan kita harus segera mengungsi, kita tinggal cangking saja 1 tas itu.

4. Makanan.

Makanan ini boleh iya boleh tidak ya. Kalau kasus saya kemaren. Kita memang kebetulan masih bisa masak, karena ada persediaan bahan di kulkas. Seandainya, ternyata bencananya lebih besar dan mengharuskan kita mengungsi dan mungkin kita lapar, padahal tidak bisa kemana-mana. Paling tidak makanan ringan seperti biskuit, crackers itu perlu dimasukan juga ke dalam tas “bencana”. Cari yang kadaluarsanya masih lama. Dan sering-sering lah menggantinya dengan yang baru jika belom dipakai.

5.Air putih.

Siapkan juga air putih beberapa botol dalam tas “bencana”. Jika belom dipakai bisa di ganti dengan botol yang baru.

6. Tisu basah, kering, handuk kecil, obat-obatan & band aid

Mungkin barang yang paling penting ini. Bisa ditambahkan bila ada yang dirasa sangat penting. Menurut saya, perlu mempersiapkan tas ransel khusus hanya berisikan barang di atas. Jadi seperti yang saya sudah tulis tadi, jika suatu saat mendadak harus mengungsi, tinggal nyangking tas itu plus tas surat-surat.

7. Hal lain yang perlu kita persiapkan adalah. Latihan mengungsi jika terjadi bencana besar. Ajari anak-anak cara keluar dari rumah atau kalau tidak mungkin keluar, ajari anak-anak bersembunyi. Di sekolah, acara latihan menghadapi bencana itu setiap bulan selalu dilakukan. Dan yang terpenting juga adalah, harus tau kemana harus mengungsi. Kalau di TK, anak-anak kan sering latihan, jadi mereka tau harus kemana. Nah, kalau di rumah? Anak-anak mungkin banyak yang tidak tahu, mereka harus mengungsi kemana. Maka dari itu, perlengkapi pengetahuan. Harus tau, kalau ada bencana ngungsinya kemana. Kalau rumah kami, tempat ngungsinnya adalah lapangan belakang rumah. Kita harus kesana. Pas bencana kemaren, kita baru kepikiran. “Oh iya,kita lupa ajarin Kiyomi dan Ken gimana cara mengungsi dan lupa kasih tau di mana tempat ngungsinya.”

PR banget ini. *noted

Mungkin sementara ini dulu. Kalau ada yang lain, nanti saya tambahkan lagi.

Yang terakhir, “ Jagalah hatimu dalam segala kewaspadaan, jaga pikiran tetap tenang dan jaga diri kapan dan di manapun berada.”

Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua. Amin.

1 thought on “Persiapan Menghadapi Bencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *