Health

Persalinan bebas trauma

Bohong kalau aku bilang melahirkan itu tidak sakit. Ya sakit. Tapi, ada banyak cara untuk mengurangi rasa sakit persalinan. Maka dari itu kata @bidankita KNOWLEDGE IS POWER and PREPARATION IS THE KEY.

Persalinan pertamaku penuh rasa takut, tidak rileks, kontraksi begitu menyiksa, susternya pun galak di Rs yg pertama, suami pun jadi ikut2an galak karena aku berisik aja, lol, 😂 jd semuanya dibuat gak bahagia, ga penuh cinta diawalnya. Ya memang akhirnya keluar juga, sehat, tapi ya tidak lancar2 banget lah. Karena kurangnya pengetahuan itu tadi. Coba kalau 5 tahun yg lalu aku banyak belajar tentang persiapan persalinan, mungkin tidak perlu sampe diobras, mungkin juga prosesnya jd lebih cepat.

“Emang apa pengaruhnya pengetahuan sm persalinan lancar? “

Ya banyak donk.

1. Tau caranya atur nafas yg benar

2. Tau cara mengejan yang benar

3. Tau makanan apa saja yg baik untuk perineum agar elastis.

4. Berpikir positif.

5. Suami juga tau caranya menciptakan suasana yg bahagia. Karena biar bagaimana pun, merasa dicintai itu penting. Hormon oksitosin akan bekerja lebih baik.

Dan semuanya bisa dipersiapkan dengan matang. Melahirkan jadi minim trauma, bebas dari rasa takut. Maka dari itu banyak2 lah belajar. Knowledge is power.

Karena persalinan pertamaku pake acara diobras(episiotomi), aku jadi takut buang air besar, mau pee juga takut minta ampun. Pokoknya kalau mau ke toilet itu takut. Haha. Duduk pun susah, jalan harus ngangkang2, bangun dr tempat tidur juga sakit. Paling parahnya, setelah 3 bulan mau berhubungan lagi sama suami ketakutan. Takut robek lagi😰. Haha.😜

Udah gitu efek diobras (episiotomi) adalah, susah nahan kencing. Baru berasa mau kencing, belom sempet ketoilet udah ngompol. Ada yg kasusnya sampe susah nahan Bab dan buang angin. Aku gak ngalamin yg ini, cuma awal2 susah banget nahan kencing pasca episiotomi.

Berdasarkan pengalaman pahit karena episiotomi,dll. Di persalinan kedua, aku lebih memperbanyak persiapan. Apa saja yang harus dihindari dan apa saja yang harus dilakukan.

Kalau menurut dokter di Jepang (khususnya dokter2ku), ibu hamil tidak boleh terlalu gemuk. Max naik bbnya cuma 12kg aja. Beda wkatu hamil yg pertama. Naik 21kg. Hamil yg pertama dokternya beda, tidak pernah ngatur2 harus makan apa,dll. Aku lebih suka yang dokter kedua, lebih tegas soal berat badan.

Persiapan dipersalinan kedua adalah,

1. Menjaga pola makan. You’re what you eat. Jadi waktu hamil kedua, bbku dipantau ketat sm dokternya. Jarang makan manis & karbo. Makannya daging,ikan,sayur,buah,&minumnya susu murni & ocha. Jarang banget nasi. Itu pun diminggu2 terakhir tidak disarankan minum susu sapi lagi. Ganti dengan susu kedelai. Selain itu ternyata hobi makan sayuran hijau dan kacangan2, punya pengaruh besar kepada keelastisan perineum. Waktu hamil kedua itu tiap hr dikasih sayur sama mertua. Jd aku makan sayur itu udah kaya sapi, banyak banget.

2. Banyak olah raga. Prenatal yoga paling bagus. Tapi aku tidak ikut kelas ini, karena waktu itu kiyomi (anak pertama) masih kecil, aku susah mau keluar jalan kaki sambil gendong kiyomi. Jadi aku senam di rumah dan sering jalan2 sm kiyomi ke taman yang deket2 rumah aja tiap sore. Pekerjaan rumah setiap hari seperti vacum, jemur baju, sikat wc, dikerjain sendiri. Memang aku yg mau kerjain sendiri, biar banyak gerak. Yang paling penting adalah ngepel. Ngepelnya bukan cuma nungging tapi sambil jongkok juga ya. Sering2 lah ngepel gaya jongkok mulai trimester ke 2 pertengahan sampai akhir, sambil stretching. Setiap hari! Liat youtube ttg video senam ibu hamil.

3. Pikiran harus tetap positif. Hati penuh cinta. Bahagia. Jangan setres. Kalau perlu dengarkan healing music tiap hari.

4. Latihan pernafasan. Cara latihan nafas bisa dilihat di youtube. Key wordnya, “Latihan pernafasan untuk ibu hamil”. Ini sangat penting. Nafas adalah kunci.

5. Teknik mengejan yang baik. Penyebab seringnya perineum robek adalah, teknik mengejan yg salah. Bukan masalah kamu angkat pantat atau tidak. Tapi laju dan kecepatan si janin keluar. Itu lah kenapa perlu latihan nafas. Kalau mau sobek, punyaku pasti sudah sobek berantakan. Soalnya itu tangan pak dokternya aja masuk ngobok2 muter2, suakit banget, sudah bukan angkat pantat lagi sih waktu itu, sudah setengah kayang.haha. 😅Tapi ga sobek tuh perineumnya. Karena syukurnya teknik pernafasan dan mengejannya baik.

6. Pilih provider yang berpengalaman. Tidak asal robek. Dikit2 main gunting. Ya kan ada juga provider yg main gunting karena gak sabar, bukan karena memang perlu digunting. Ini juga penentu ya. Walaupun kalau di Jepang aku ga bisa milih, mau dokter yg mana. Tapi syukurnya kemaren dapet dokter, suster, dan siswi praktek yg bagus dan sabar banget. Dari awal2 di kamar kontraksi, ini si suster dan siswi praktek yg nemenin terus, ngasih semangat, mijetin, pegang tanganku, gosok2 pinggang. Moment melahirkan jadi berkesan. No trauma. Kalau kamu bisa pilih. Pilihlah provider yang tepat.

7. Suami juga harus mendukung penuh. Jangan cuma bengong diem aja dipelototin doank istrinya. 🙄Di belai kek istrinya, dipegang tangannya, dicium, diapain lagi? Dinyanyiin kek..wkkwkw.. enggak2. Yg ini jangan, istrimu pingsan! Kecuali suara suamimu kaya Ed Sheeran. Perfect Lol. 😂

Sekian sharing ttg persalinan. Semoga membantu dan memberikan gambaran yang indah. Bahwa proses bersalin itu tidak menakutkan malah nagih. 😍

Ya jadi intinya begini, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Jangan udah ‘ujan’ baru nanya , “loh kok ujan? Kok basah? Kenapa nih?” Telat ya!

Tetap pesannya cuma 1. Belajar! Bekali diri dulu, seenggaknya kita tau, harus ngapain kalo pas kondisinya begini atau begitu. Jadi gak gampang parno&panik. Soal hasil, serahkan sepenuhnya pada Yang di Atas.

Tiap org beda2 hasil dan penerapannya. Yg pnting iklas dan sabar. Semua ada proses dan waktunya.

copas dr kata mak @ariwita yg lahirin anak ke3 hanya dibantu suami aja di rumah.lancar! Mampir di blognya ya. www.ariwita.com

1 thought on “Persalinan bebas trauma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *