Parenting

Menomor 1 kan si kakak

Anak-anak itu menggemaskan ya? Lucu. Itu kalo kita liatnya sedang dalam situasi yg baik. Baik di sini maksudnya pas suasana hati lagi enak, lagi ga capek, lagi ga stress.

Tapi, kalo liatnya dalam situasi yg lagi ga enak, misalnya lagi capek, kurang tidur, banyak tugas, mau gak mau pikiran kita juga capek tersita untuk hal lain. Jadi, liat anak berantem, rebutan, berantakin rumah (yang diberantakin bukan cuma mainan. misal beras, tisu toilet, susu sengaja dikecer2, dll) itu jadi menyita emosi dan tenaga. Kondisi seperti ini sangat sering terjadi di kalangan ibu2 beranak pinak. Kondisi hati dan kepala ibu2 bisa mendidih dan meledak pada waktunya..hahhaha..

Orang pikir mungkin saya hiperbola “ yaelah anak baru 2, sehat, baik dan sempurna, kenapa harus mendidih dan ga dinikmati? Sabar aja karna kan gak lama, nanti kalo mereka besar kamu pasti kangen dengan tingkah mereka.” kata2 tsb yg sering orang bilang, malah kadang saya sendiri yang nasehatin orang kaya gitu, tapi aslinya prakteknya itu susah kalau kondisinya lagi mendidih itu tadi.

Saya sadar betul orang tua itu harus selalu dalam kondisi yang waras dalam mengurus anak. Karna jika tidak, akibatnya bisa cukup fatal. Ketika orang tua gak waras, maka perkataannya akan menyakiti si anak, atau mungkin orang tua jadi suka main fisik. Main fisik yang sampai tidak wajar, kesalahan yang sepele pun bisa mukul. Beda ya kalau mengajar anak dengan pukulan. Misalnya, si anak berkali2 ngomongnya kurang ajar, berkali2 dikasih tau malah semakin kurang ajar, nah kalo kasusnya kaya gini, saya rasa perlu anak diberi hajaran, dengan maksud mendidik. Tapi jangan berpikir bahwa setiap hajaran adalah didikan. Karna ada juga hajaran yang akan menyakiti hati si anak. So, jadi orang tua tidaklah mudah, harus juga bisa membedakan pembelajaran seperti apa yang diberikan untuk anak dengan karakter A atau anak karakter B.

Saya punya anak 2, mereka punya karakter yang berbeda. Si kakak lebih cenderung keras. Karaternya kuat. Sedangkan si adek sebenarnya lebih kalem. Tapi, si adek juga akan keras bila disituasi terancam, misal mainannya direbut si kakak. Dia juga bisa memukul kakaknya. Kalau kondisinya kaya gini saya harus belain yang mana? Biasanya sih gak belain dua-duanya. Keduanya akan saya marahin. Atau mainanannya saya ambil dan gak boleh main sekalian dua-duanya, karena tidak mau saling berbagi. Akibatnya, mereka pasti nangis. Ya biarin aja mereka nangis, nanti juga diem sendiri.

Saya berpikir dan mengamati mereka. Bagaimana saya harus bersikap menghadapi si kakak yang karakternya begini. Atau si adik yang begitu. Beberapa bulan terakhir ini saya bergabung dengan kelompok ibu-ibu macam ibu2 PKK gitu. Grup ini kebanyakan anggotanya adalah nenek-nenek, dan sebagian ibu-ibu muda juga, yang tujuannya adalah sama-sama ingin belajar. Belajar tentang hubungan dengan suami istri dalam rumah tangga, parenting, hubungan dengan orang lain, berbagi informasi, dan belajar memasak. Awalnya saya masuk grup ini karena supaya bahasa jepang saya bisa aktif digunakan. Memang bahasa jepang saya lumayan terpakai karna semuanya orang jepang. Dari mereka ini saya banyak belajar juga. Salah satunya bagaimana memperlakukan si kakak. Si kakak harus dinomor satukan. Banyak orang tua itu kadang gak sadar, mereka mungkin lebih memperhatikan yang kecil (adiknya), walaupun tidak bermaksud untuk pilih kasih. Tapi otomatis kita pasti belain yang kecil. Misal, “ lho kiyomi kan udah kakak, kasih lah adeknya. Kakak kok gitu.” Atau “ kakak udah besar. Gak boleh gitu.” Nah sadarkah orang tua, bahwa sebenarnya perkataan itu malah bikin si kakak bukannya jadi baik sama adiknya, malah sebaliknya? Karena dia kakak, dia harus diperlakukan lebih baik dulu, agar dia bisa mengasihi adiknya seperti dia dikasihi. Buat hatinya puas akan kasih dari orang tuanya dulu, baru dia akan memberi kasih itu ke adiknya. Terus kalau kita kasih mereka makanan. Kasih yang lebih banyak di piring si kakak. Kenapa begitu? Karna dia kakak. Dia harus dapat porsi yang lebih besar, karena badannya juga lebih besar kan? Pasti kebutuhan makananya lebih banyak kan? Padahal mungkin, adeknya yg lebih jago makan.

Tapi usahakan memberikan porsi lebih banyak ke sikakak. Dengan begitu lama-lama si kakak akan memberikan bagiannya ke adiknya. Karena apa? Hatinya sudah puas duluan. Jadi dia akan belajar untuk berbagi dan mengasihi adiknya. Tapi, kebanyakan orang tua mungkin tidak demikian. Saya dulu juga gak gini. Saya kasih mereka porsi yang sama. Kan mikirnya supaya adil. Tapi ketika saya belakangan mengubah cara saya membagi makanan ke anak-anak. Kiyomi si kakak sudah berbeda. Dia sering mau berbagi dengan ken chan, tanpa saya suruh. Memang belom selalu begitu, tapi saya meyakini, ini cara yang baik. Tinggal tunggu waktunya. Terus bagaimana dengan makanan yang misalnya kita belinya bungkusan? Berikan dulu ke si kakak. Bilang ke adiknya “ tunggu ya, buat si kakak dulu.” Selalu utamakan si kakak. Bagaimana dengan adiknya? Kasihan dong dia kalo si kakak terus? Enggak. Si adek akan merasakan kasih itu dari si kakak yg hatinya puas itu tadi. Paham gak ya penjelasan ini? Saya agak susah menjelaskannya. Tapi semoga pesannya sampai. Dan lagi misalnya, berikan pujian ke si kakak di depan adiknya. Misal, “ ken, liat ini kiyomi pinter mau sikat gigi. Atau wah liat ken kiyominya kawaii ya?” Sering-sering lah memuji si kakak di depan adiknya. Supaya apa? Supaya hatinya si kakak itu puas dulu, maka dia akan memperlakukan adiknya dengan baik seperti dia dipuji dan diperlakukan baik.

Saya masih terus belajar untuk konsisten mengerjakan ini. Tunggu kabar baik dari saya ya. Saya akan update terus.

3 thoughts on “Menomor 1 kan si kakak

  1. wah bener juga yah, nga kepikiran
    anak saya 1, mungkin tidak menghadapi hal itu dan konsep untuk “memuaskan” sang kakak masih bisa dipake, sehingga sikap anak saya ke adik sepupu atau teman sepermainannya bisa menjadi lebih baik.

Leave a Reply to Ade Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *